Imam Bukhari merupakan tokoh pertama yang secara khusus mencurahkan perhatian besar untuk menghimpun hadis-hadis shahih dalam satu karya. Beliau bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari. Jejak beliau kemudian diikuti oleh sahabat sekaligus muridnya, yaitu Imam Muslim. Kedua karya mereka, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dikenal sebagai kitab hadis paling otentik, meskipun para ulama sepakat bahwa Shahih Bukhari memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
Keunggulan ini tidak lepas dari ketelitian Imam Bukhari dalam menetapkan syarat hadis. Beliau hanya menerima hadis dari perawi yang hidup sezaman dengan gurunya serta terbukti benar-benar mendengar langsung dari sumbernya. Sementara Imam Muslim cukup mensyaratkan kesamaan masa hidup antara perawi dan gurunya tanpa harus memastikan pertemuan langsung. Meski demikian, kedua imam ini tidak mengklaim telah mengumpulkan seluruh hadis shahih, karena sebagian hadis juga tersebar di kitab lain seperti karya Imam At-Tirmidzi.
Latar Belakang Kehidupan
Imam Bukhari lahir pada tahun 194 H (809 M) di Bukhara. Sejak kecil, beliau telah kehilangan ayahnya dan dibesarkan oleh ibunya dengan penuh kasih sayang serta perhatian terhadap pendidikan. Kecerdasannya sudah tampak sejak dini, ditambah dengan sifat wara’ dan daya hafal yang luar biasa.
Pada usia 10 tahun, beliau mulai menghafal hadis, dan ketika berumur 16 tahun, ia telah menguasai puluhan ribu hadis. Bahkan disebutkan bahwa di usia remaja, beliau telah menghafal sekitar 70.000 hadis. Pada usia yang sama, beliau menunaikan ibadah haji bersama ibunya ke Makkah dan memilih menetap lebih lama untuk menimba ilmu dari para ulama di sana. Di usia 18 tahun, beliau mulai menulis karya pertamanya tentang para sahabat Nabi, disusul kitab sejarah besar berjudul At-Tarikh al-Kabir.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Kecintaan Imam Bukhari terhadap ilmu hadis membawanya melakukan perjalanan panjang ke berbagai wilayah, seperti Makkah, Madinah, Baghdad, Basrah, Kufah, Syam, dan Mesir. Dalam perjalanannya, beliau berguru kepada banyak ulama besar, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal.
Dedikasinya luar biasa—ia mencatat bahwa dirinya telah meneliti ribuan perawi hadis dan hanya memilih yang benar-benar memenuhi kriteria ketat. Dari sekitar 600.000 hadis yang diteliti selama kurang lebih 16 tahun, beliau menyaring sekitar 7.500 hadis untuk dimasukkan ke dalam karya monumentalnya, Al-Jami’ ash-Shahih.
Masa Akhir Kehidupan
Popularitas Imam Bukhari sempat menimbulkan kecemburuan di kalangan sebagian orang. Ketika kembali ke kampung halamannya, beliau menghadapi fitnah hingga akhirnya diusir dari Bukhara. Beliau wafat dalam keadaan jauh dari tanah kelahirannya, tepatnya di Khartank dekat Samarkand pada tahun 256 H, bertepatan dengan malam Idul Fitri, dalam usia 62 tahun.
Karya-Karya
Karya terbesar Imam Bukhari adalah Shahih Bukhari, yang disusun dengan penuh kehati-hatian dan spiritualitas tinggi—bahkan setiap kali hendak menuliskan hadis, beliau terlebih dahulu shalat dua rakaat dan beristikharah. Selain itu, beliau juga menulis berbagai kitab lain, di antaranya At-Tarikh al-Kabir.
Kitab Shahih Bukhari diakui oleh para ulama sebagai kitab paling sahih setelah Al-Qur’an. Tokoh seperti Imam Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan keutamaannya dibanding kitab hadis lainnya. Bahkan, Imam Muslim sendiri sangat mengagumi gurunya itu dan mengakui keilmuannya yang luar biasa.
Imam Bukhari dikenal sebagai pribadi yang saleh, tekun beribadah, serta memiliki kecerdasan dan ketelitian yang sulit ditandingi. Warisan ilmunya terus menjadi rujukan utama umat Islam hingga saat ini dalam memahami hadis-hadis Nabi ï·º.